Sabtu, 01 Agustus 2015

PENGERTIAN IMAN DAN JUMLAHNYA

Iman Ada 6 Adalah sebagai berikut :



1.Iman kepada Allah swt.
Iman Berasal Dari Bahasa Arab Yang Artinya Percaya. Sedangkan Menurut Istilah Iman Artinya mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hari, Mengucapkanya dengan lisan serta mmengamalkannya dalam bentuk tingkah laku Dan tindakan terhadap segala apa yang diyakininya. Seseorang yang beriman hendaknya memiliki pengetahuan dan keyakinan yang mantab. Tujuan Iman menurut agama islam ialah taat dan patuh kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya Serta Menjauhi segala apa yang dilarangNya.
Seseorang Yang Mengaku Dirinya Beriman Kepada Allah, Harus Taat Dan Patuh swrta melaksanakan perintahNya Dan Menjahui larangaNya, orang yang Demikian Disebut mukmin. Islam Dan Iman tidak bisa di pisahkan. Seseorang yang mengaku Islam hendaknya mempunyai iman di dalam hatinya dan diwujudkan dalam amal perbuatannya sehari-hari.
                Rukun Iman adalah perkara-perkara wajib yang harus diyakini oleh setiap mukmin. Rukun iman ada 6 (eman) macam, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.       Iman Kepada Allah swt.
2.       Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
3.       Iman Kepada Kitac-kitab Allah
4.       Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah
5.       Iman Kepada Hari Kiamat
6.       Iman Kepada Qadla dan Qadar Allah
Islam Telah mengajarkan dua kalimat syahadat yang derbunyi laa ilaaha illallaah muhammadan rasulullah, Artinya Tidak Ada Tuha Selain Allah Dan Nadi Muhammad Itu Utusan Allah. Oleh Sebab Itu Kita Harus Yakin Dengan keyakinan yang mantap bahwasannya Allah itu adalah sutu-satunya Tuhan yang patut di sembah Dan ditaati dengan sepenuh hati.
Sedangkan ciri-ciri orang yang beriman adalah sebagai berikut:
a.       Bersikap rendah hati
b.      Berpandangan luas
c.       Tidak mudah putus asa
d.      Taat, patuh dan berwaspada
e.      Bersih jiwanya dan
f.        Tentram dan damai semata-mata yang berorientasikan keslamatan dunia dan akhirat.
1.       Iman Kepada Allah swt.
Iman Kepada Allah adalah percaya dan meyakini bahwasannya Allah itu ada. Allah adalah tuhan yang maha tunggal dan tiada sekutu bagiNya. Alla hh adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Allah mempunyai sifat-sifat baik yang harus ada pada Dzat Allah dan mustahil jika Allah tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Sifat Wajib adalah lawan dari sifat mustahil. Bagi orang mukmin, ada 20 sifat wajib bagi Allah dan 20 sifat mustahil bagi Allah yang harus diketahui, antara adalah sebagai berikut:
1.       Wujud-ada, mustahil jika Allah bersifat Adam-Tidak ada.
Alam semesta beserta isinya pasti ada yang menciptakan adalah Allah swt. Sebagaimana firmaNya di dalam kitab suci Alquran yang di Artikan, Dan Tuhan mu Adalah Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada tuhan melankan Dia (QS.Al Baqarah 163 ).

2.       Qidam –Terdahulu, Mustahil Jika Allah bersifat Hudus-baru.
Allah maha Dahulu dan tiada permulaan Apabila aadanya Allah ada  permulaan, berarti Dia itu baru, jika Dia baru pasti ada yang menciptakaNya. Oleh karena itu mustahil jika Allah itu bersifat Hudus. Sebagaimana firman Allah swt, yang di artikan, Dialah Yang Maha Awal dan yang Maha Akhir.(QS.Al Hadid3).

3.       Baqa’-Kekal, Mustahil jika Allah Bersifat Fana’-rusak.
Allah telah menciptakan alam semesta beserta isinya, maka alam semesta itu mempunyai permulaan dan kelak pasti akan berakhir yaitu ketika hari kiamat datang. Alam semesta beserta isinya akan mengalami kehancuran, tetapi Dzat Allah tetap kekal dan tidak akan mengalami kehancuran atau kerusakan. Sebagaimana firman Allah swt. Yang diartikan, Semua yang ada di bumi akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan. (QS. Ar rahman 26-27 ).

4.       Mukhalafatu lil hawaditsi-tidak semua dengan yang baru, mustahil jika Allah bersifat Mumatsalatu lil hawaditsi-serrupa dengan yang baru.
Allah adalah Dzat yang maha pencipta, tidak mungkin sama dengan apa yang diciptakaNya dan tidak ada satu pun yang dapat menyamaiNya. Sebagai firman Allah swt, yang di artikan, Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Meilhat. (QS. Asy Syura 11).

5.       Qiyaamuuhu binafsihi-berdiri sendiri, Mustahil jika Allah Bersifat Ihtiyajuhu ila ghairihi-bergantung kepada orang lain.
Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bantuan dari siapa pun dan tanpa dipengaruhi oleh siapa pun. Sebagaimana FimaNya, yang di artikan, Dialah Allah Tidak ada tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri . (QS.Ali Imran2).

6.       Wahdaniyah-Maha Esa,  Musatahil jika Allah Bersifat Ta’addud-berbilang(lebih dari satu).
Allah adalah Tuhan yangMaha Esa, tiada sesuatu pun yang dapat menyamaiNya,  baik DzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya. Mustahil Tuhan lebih dari satu. Jika Tuhan itu lebih dari satu , maka akan terjadi kerusakan dialam semesta ini, Karena masing-masing mempunyai kehendak yang berlainan antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lain. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Katakanla:” Dialah Allah yang Maha Esa. (QS.Al Ikhlas 1).

7.       Qudrat-Maha Kuasa, Mustahil jika Allah bersifat Ajzuu-lemah.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam kekuasaan Allah. KekuasaaNya tiada batas dan tidak adasesuatu pun yang menyamai kekuasaaNya. Jadi mustahil jika Allah itu bersifat lemah atau tidak berkuasa. Sebagaimana firmaNya, yang  di artikan, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah 20).

8.       Iradah-Maha Berkehendak, mustahil jika Allah bersifat Karadah-terpaksa.
Allah swt. Menciptakan alam beserta isinya ini atas kehendak dan kemauan Allah sendiri, oleh sebab itu  mustahil jika Allah itu bersifat terpaksa atau dipaksa orang lain. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, PerintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya( dengan) berkata kepadanya:”Jadilah!” maka jadilah ia. (QS. Yasin 82).

9.       Ilmu-Maha Mengetahui Mustahil jika Allah bersifat Jahlu-bodo.
Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang telah terjadi di masa lampauu dan segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagai firmaNya, yang di artikan,  Allah Maha Mengetahui yang ada di langit dan apa yang ada di bum dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. Al Hujurat 16).

10.   Hayat-Maha Hidup, Mustahil jika Allah bersifat Maut-mati.
Allah adalah Dzat Pencipta yang mengatur, pemilihan serta penentu atas jalannya kehidupan dialam semesta. Allah tidak pernah tidur, tidak punya rasa kantuk tidak memiliki sifat lupa serta kekal adanya dan tidak akan pernah binasa. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dialah Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup, kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur, kepunyaaNya apa yang ada di langit dan di bumi. (Qs. Al Baqarah 255).

11.   Sama’-Maha mendengar, mustahil jika Alah bersifat shamamun –tuli.
Allah Maha Mendengar terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Pendengaran Allah tidak terbatasi oleh wakta dan tempat, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pendengaraNya. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Megetahui. (QS. Al Maidah).

12.   Bashar-Maha Melihat, mustahil jika Allah bersifat ‘Umyun—buta.
Allah adalah Dzat yang Maha Melihatt terhadap segala sesuatu yang terjadi. Penglihatan Allah sangat tajam dan tak terbatas tanpa memerlukan alat, tiada segala sesuatu yang bisa lepas dari PengelihataNya. Sebagai firmaNya, yang di artikan, Sesungguhnya Dia( Allah) Maha Melihat terhadap segala sesuatu. ( QS. Al Mulk 19).

13.   Kalam-Maha Berfirman, mustahil jika Allah bersifat bukmum-bisu.
Kalam Allah di berikan kepada siapa saja yang di kehendakiNya. Allah memberikan KalmaNya kepada para Nabii dan Rasul berupa wahyu. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan langsung. (QS. An Nisa 164).

14.   Kaunuhu Qadiran-Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu ‘Ajizan-Adanya sebagai Dzat yang lemah.
Allah swt. Adalah Dzat yang Maha Pencipta dan yang mengatur terhadap segala sesuatu yang di ciptakannya, dan Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala apa yang diciptakaNya, Sebagaiman firmaNya,” sesengguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al Baqarah 20).

15.   Kaunuhu Muridan-Adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Berkehendak, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Mukraban-dalam keadaan dipaksa.
Sszat Allah senantiasa dalam keadaan Maha Berkehendak, tiada sesuatu pn yang dapat menghalangi KehendakNya, tidak terpaksa dan tiada sesuatu pun yang dapat memaksaNya. Sebagaimana firmanya,”PerintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata kepadanya, “Jadi lah!” Maha jadila ia” (QS. Yasin 82).

16.   Kaunuhu’Aaliman-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Tahu, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Jahilan- ]dalan keadaan bodoh.
Alaah senantiasa mengetahui terhadap segala apa yang terjadi di alam semesta ini, DzatNya Maha Tahu terhadap segala  sesuatu yang diperbuat oleh makhlukNya. Sebagaimana firmaNya, “ Allah Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dam Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. Al Hujurat 16).


17.   Kaunuhu Hayyan-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Hidup, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Mayyitan-dalam keadaan mati.
Allah adalah Dzat yang Maha Hidup, tanpa permulaan dan tiada akhir, Allah senantiasa hidup kekal selama-lamanya. Sebagaimana firmaNya,”Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup Kekal lagu terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur : KepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan di bumi”. (QS. Al Baqarah 225).

18.   Kaunuhu Sami’an-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Mendengar, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Ashamma-dalam keadaan tuli.
Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar terhadap segala apa yang terjadi dialam semesta, tiada sesuatu pun yang bisa lepas dari pendengaraNya. Allah Maha Mendengar terhadap segala apa yang menjadi Kehendak atau kemauan dari semua makhluk ciptaaNya. Sebagaimana firmaNya,”Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah 76).

19.   Kaunuhu Bashiran-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Melihat,  mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu A’ma-dalam keadaan tidak melihat atau buta.
Allah adalah Dzat yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi, tiada sesuatu pun yang bisa lepas dari pengelihataNya. Sebagaimana firmaNya, “Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Maidah 71).

20.   Kaunuhu Mutakalliman-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Berfirman, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Abkama-dalam keadaan bisu.
Allah adalah Dzat yang Maha Berfirman kepada para rasulNya, Para Nabi Dan kepada semua makhluk Allah yang Dia kehendaki. Sebagaimana firmaNya, “Dan Allah telah Berfirman kepada Musa dengan langsung”. (QS. An Nisa’ 164).



2.Iman Kepada Malaikat:
                Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari Nur (cahaya). Malaikat merupaka makhluk Allah yang paling taat, mereka tidak pernah melanggar perintah dan larangan Allah swt. Malaikat tidak makan, tidak minum tidak tidur serta tidak punya rasa kantuk, tidak memiliki nafsu dan tidak dapat di lihat dengan mata. Setiap malaikat mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan ketetapan Allah.
Jumlah Malaikat itu banyak sekali , namun dari sekian banyak malaikat hanya ada 10 (sepuluh) malaikat yang wajib kita ketahui. Kesepuluh malaikat malaikat tersebut merupakan penghulu para malaikat. Ada pun s10 (sepuluh ) Malaikat yang wajib di ketahui:
1.       Malaikat Jibril           (Menyampaikan wahyu)
2.       Malaikat Mikail        (Membawa rejeki, mengatur dan menjaga peredaran alam semesta)
3.       Malaikat Izrail           (Menyabut Nyawa)
4.       Malaikat Israfil         (Meniup Terompet pada hari kiamat)
5.       Malaikat Raqid         (Mencatat amal Baik Manusia)
6.       Malaikat Atid            (Mencatat amal buruk manusia)
7.       Malaikat Munkar     (Menanyai Keimanan manusia di alam kubur)
8.       Malaikat Nakir          (Menanyai Keimanan manusia di alam kubur)
9.       Malaikat Ridlwan    (Mejaga Surga)
10.   Malaikat Malik         (menjaga neraka)



3.Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Rasulullah saw. Telah mengajarkan dan memerintahkan kepada orang mukmin untuk beriman kepada kitab-kitab Allah yang di turunkan kepada nabi dan rosulNya. Perintah Allah kepada para nabi dan rasul itu disebut wahyu.
Wahyu yang di terima oleh para nabi dan rasul tersebut di kumpulka daan disebut sebagai kitab suci. Orang mukmin harus mempercayai dan melaksanakan isi yang terkandung dari kitab-kitab tersebut, selalu isi yang terkandung dalam kitab tersebut tidak tercemar oleh pemikiran-pemikiran manusia. Al Qur’an telah menerangkan bahwasanya kitab suci selain Al Qur’an sudah tidak asli lagi, Karena isi yang terkandung dalam kitab suci selain. Al Qur’an telah banyak di salin oleh tangan-tangan manusia. Kitab suci Al Qur’an tetap terpelihara ke asliannya kare Allah swt. Senantiasa menjaga dan mempeliharanya .
Kitab-kitab suci Allah yang harus kita imani itu ada 4 (empat) macam, Di antaranya adalah:
1.       Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
2.       Kita Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as.
3.       Kitab Injil yang di turunkan kepada Nabi Isa as.
4.       Kitab Al Qur’an yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw.

4.Iman kepada Nabi dan Rasul Rasul Allah.
Rasul adalah manusia pilihan yang memperoleh wahyu dari Allah swt. Dan di perintah kan untuk menyampaikan wahyu  tersebut kepada umat manusia sebagaian ajaran yang dapat membawa rahmat serta kebahagiaan bagi kehidupan manusia di dunia adn di akhirat. Sedangkan Nabi adalah manusia pilihan yang memperoleh wahyus dari Allah swt. Untuk dirinya sendiri dan tidak wajib untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia.
 Jumlah para Nabi dan Rasul sangat banyak namun dari sekian banyak, para Nabi dan Rasul ada 25 (Dua Puluh Lima) Nabi dan Rasul. Yang wajib untuk kita ketahui. Para Nabi dan Rasul mempunyai tugas yang sama, yaitu menyampaikan ajaran Allah, membawa kabar gembira bagi orang yang beriman, memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar. Menyempurnakan akhlak manusia , membacakan ayat-ayat Allah kepada umatnya. Membersihkan atau membina rohani manusia serta mengajarkan kitab suci yang dibawanya.
                                                Nabi dan Rasul yang wajib di ketajui adalah sebagai berikut:
1.       Nabi Adam as.                           14.          Nabi Musa as.
2.       Nabi Idris as.                              15.          Nabi Harun as.
3.       Nabi Nuh as.                              16.          Nabi Zulkifli as.
4.       Nabi Hud as.                               17.          Nabi Daus as.
5.       Nabi Shalih as.                           18.          Nabi Sulaiman as.
6.       Nabi Ibrahim as.                       19.          Nabi Iyas as.
7.       Nabi Luth as.                              20.          Nabi Ilyasa as.
8.       Nabi Ismail as.                           21.          Nabi Yunus as.
9.       Nabi Islhak as.                           22.          Nabi Zakaria as.
10.   Nabi yakub as.                           23.          Nabi Yahya as.
11.   Nabi Yusuf as.                            24.          Nabi Isa as.
12.   Nabi Ayyub as.                          25.          Nabi Muhammad saw.
13.   Nabi Suaib as.
Di antara 25 para Nabi dan Rasul tersebut, terdapat 5 orang yang memperoleh gelar Ulul Azmi yaitu Nabi dan Rasul yyang paling tabah dan sabar, mereka itu adalah :
1.       Nabi Nuh as.
2.       Nabi Ibrahim as.
3.       Nabi Musa as.
4.       Nabi Isa as.
5.       Nabi Muhammad saw.
Rapa Nabi dan Rasul itu 


  5.Iman Kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir adalah mempercayai dan meyakini akan adanya kehidupan yang kekal dan abadi setelah kehidupan dunia ini. Bagi orang islam wajib mengimani dan meyakini bahwa  suatu ketika nanti dunia yang kita huni beserta isinya ini akan hancur lebur, yang dikenal dengan hari kiamat. Setelah itu manusia akan di bangkitkan lagi dari alam kuburnya untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya, yakni manusia akan mempertanggungjawabkan semua yangf diperbuat selama hidup dunia. Bukti seseorang beriman kepada hari akhir adalah ia mau mempersiapkan diri untuk menyambut hari itu, yakni dengan banyak beramal saleh, contohnya salat lima waktu, infaq, belajar dengan giat, dan lain-lain.
Datangnya hari kiamat tidak ada orang yang tahukapan waktunya, datangnya hari kiamat merupakan rahasia Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Thaha ayat 15 yang artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan”.(QS. Thaha : 15)
Firman yang lainnya : “Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah membangkitkan semua yang ada dalam kubur”.(QS. Al-Hajj : 7)

Kejadian tersebut secara jelas digambarkan dalam Al-Qur’an Surah Az Zalzalah ayat 1-5, yang artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya:”Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritnya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”

Hari akhir menurut kalimatnya dipahami menjadi dua, yaitu:
1.      Hari akhir berarti hari yang paling akhir dalam hidup dan kehidupan makhluk di dunia ini, yang dikenal dengan hari kiamat.
2.      Hari akhir berarti hari kebangkitan atau hari akhirat, yaitu terjadinya kehidupan alam akhirat dengan rangkaian peristiwa di dalamnya.

Hari kiamat juga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.      Kiamat Sughra (kiamat kecil), yaitu kerusakan atau kematian yang dialami oleh sebagian kecil umat manusia yang ada di dunia. Misalnya kematian yang dialami seseorang  karena kecelakaan, sakit, bencana alam. Banjir, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain.
2.      Kiamat kubro (kiamat besar), yaitu kematian dan kehancuran seluruh alam semesta ini tanpa kecuali. Setelah kejadian ini maka kehidupan di dunia akan berganti dengan kehidupan di akhirat.

Bukti bahwa hari kiamat itu akan datang
1. Bukti secara dalil aqli (dengan akal)
Semua yang diciptakan Allah SWT itu pasti ada batas akhir, yaitu mengalami kehancuran/kerusakan.
2. Bukti secara dalil naqli (dari Al-Qur’an dan Al Hadits)
A.     Surat Al Haqqah ayat 14 yang artinya: “dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.

B.     Surat Muhammad ayat 18 yang artinya: “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadataran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?”

C.       Surat Al Zalzalah ayat 1-5 yang artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mngeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.”
Masih banyak lagi ayat-ayat yang menggambarkan kejadian hari kiamat. Hal ini merupakan peringatan dari Allah SWT kepada kita agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

6.Iman Kepada Qada dan Qadar

Bila kamu mengamati orang-orang dan teman-teman di sekelilingmu, maka akan terlihat bahwa Allah SWT telah menciptakan setiap manusia dalam keadaan yang tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan, ada yang tampan dan ada yang kurang tampan, ada yang cantik dan ada pula yang kurang cantik. Ada yang berambut pirang, berambut hitam, ada yang berambut lurus, dan ada pula yang keriting. Ada yang berkulit putih, sawo matang, dan ada yang berkulit hitam. Ada sangat cerdas dan ada pula orang yang idiot. Seseorang tidak pernah meminta dilahirkan untuk menjadi bangsa Indonesia, bangsa Malaysia, Cina, Arab, Amerika, atau bangsa manapun. Semua itu merupakan ketetapan penciptaan Allah SWT yang sering kita sebut dengan takdir.

Bagaimana manusia menyikapi takdir Allah SWT tersebut ? Untuk lebih memahaminya simaklah pembahasan mengenai iman kepada Qadha dan Qadar berikut ini !

A. Ciri Beriman Kepada Qadha dan Qadar.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dihadapkan kepada kenyataan hidup yang dialaminya. Kenyataan itu kadang ada yang berbentuk positif dan terkadang negatif, seperti :
• ada yang memuaskan ada yang tidak,
• ada yang menyenangkan ada yang menyusahkan,
• ada yang menurut kita baik ada yang buruk, dan sebagainya.

Bagi orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apapun kenyataan dan peristiwa yang dialaminya, akan ditanggapi dan diterima secara positif. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, kenyataan apapun yang diterima ditanggapi dan diterima secara negatif.

Contoh :
• Orang beriman yang tertimpa musibah menanggapi kenyataan ini dengan kesabaran dan ketabahan. Kesabaran dan ketabahan merupakan sika positif yang dinilai Allah SWt dengan pahala. Jadi, selama dia sabar dan tabah, selama itu pula pahalanya terus mengalir.
• Orang beriman ketika mendapatkan keberuntungan besar bersyukur dan merasa bahwa semua itu karunia dari Allah SWT. Untuk itu ia ingin berbagi kepada orang lain dengan menafkahkan sebagian keuntungannya tersebut.
• Orang yang tidak beriman ketika mendapat musibah merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi. Dia merasa putus asa dan akhirnya melampiaskannya dengan berbagai macam perbuatan yang merusak, seperti melamun, merokok, mengkonsumsi narkoba, bahkan ada yang bunuh diri.
• Orang yang tidak beriman ketika mendapat keuntungan bisnis yang berlimpah malah menggunakannya untuk berfoya-foya. Dia merasa bahwa yang didapatnya itu semata-mata merupakan prestasi yang harus diraakan dan dia berhak dan bebas menggunakan sesuka hatinya.

Dengan memahami contoh-contoh tersebut, yakinkah kamu bahwa beriman kepada qadha dan qadar mempunyai peranan penting dalam kehidupan? Kalau yakin, tentu kamu ingin meningkatkan keimananmu kepada qadha dan qadar. Bagaimana ciri-ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar? Berikut ini merupakan ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar.

1. Selalu menyadari dan menerima kenyataan.

Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup. Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT. Firman Allah SWT :
Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17)

2. Senantiasa bersikap sabar.

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2)

Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya. Perhatikan firman Allah berikut :
Artinya : “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah : 155)

Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita gembira kepada orangorang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses.

3. Rajin dalam berusaha dan tidak mudah menyerah.
Agar seseorang terus giat berusaha ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan. Firman Allah :
Artinya : “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42)

4. Selalu bersikap optimis, tidak pesimis.
Keyakinan terhadap Qadha dan Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa. Firman Allah SWT :
Artinya : “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

5. Senantiasa menerapkan sikap tawakal.
Tawakal (berserah diri0 kepada Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah menghendaki hamba-Nya kepada keburukan. Firman Allah SWT :
Artinya : “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56).

B. Hubungan Qadha dan Qadar

Beriman kepada qadha dan qadar merupakan rukun iman yang keenam. Qadha adalah ketentuan akan kepastian yang datangnya dari Allah SWT terhadap segala sesuatu sejak zaman azali, yaitu sejak zaman sebelum sesuatu itu terjadi. Segala sesuatu yang terjadi telah diketahui Allah SWT terlebih dahulu karena Dialah yang merencanakan serta yang menentukannya. Seluruh makhluk, baik malaikat, syetan, jin, maupun manusia tidak akan mengetahui rencana-rencana Allah SWT tersebut.
Manusia punya rencana, tetapi Allah SWT yang menentukan. Ungkapan ini merupakan salah satu bentuk cara memahami qadha dan qadar Allah SWT. Manusia memang diberi kemampuan untuk berbuat dan berpikir, namun kedudukan Allah SWT dan kekuasaan-Nya adalah di atas segala-galanya.

Ketentuan Allah SWT ini merupakan hak mutlak (absolut), tanpa campur tangan siapapun dan dari manapun. Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan manusia terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah SWT semata. Rasulullah saw bersabda :
Artinya : “Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: baginda s.a.w bersabda: Allah SWT mengutus Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Setelah beberapa waktu Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Apabila Allah SwT membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatat ketika masih di dalam kandungan ibunya”.(HR Bukhari dan Muslim)

Qadar adalah ketentuan-ketentuan Allah SWT yang telah berlaku bagi setiap makhluk sesuai dengan ukuran dan ketentuan yang telah dipastikan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Oleh karena itulah, baik buruknya telah direncanakan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : “Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS Ar Ro’du: 8)
Dari pengertian hadis dan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri manusia telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qadha dan qadar biasa disebut juga dengan takdir. Jadi, beriman kepada qadha dan qadar dapat dikatakan pula dengan beriman kepada takdir.

Takdir baru dapat diketahui oleh manusia dengan kenyataan atau peristiwa yang yang telah terjadi, contoh :
1. Terjadinya musibah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004 yang merenggut ratusan ribu korban meninggal dunia. Sebelum kejadian tersebut tak ada seorangpun yang mengetahuinya.

2. Dalam suatu kejadian kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada seorang bayi yang selamat. Menurut ukuran akal, si bayi adalah makhluk yang sangat lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi malah dia yang selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha menyelamatkan diri malah meninggal dunia.

3. Ada seorang yang dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin. Orang sekampung memperkirakan anak tersebut kelak juga akan menjadi miskin seperti orang tuanya. Namun, setelah anak tersebut dewasa ternyata menjadi orang yang pandai berdagang, sehingga dia menjadi orang yang kaya.

Contoh-contoh di atas hanyalah merupakan bagian kecil ari peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan takdir Allah SWT. Masih banyak sekali peristiwa yang bisa kita pahami sebagai perwujudan dari qadha dan qadar dari Allah SWT. Namun dari berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan tetap berlaku kepada setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman harus meyakini dengan sepenuh hati akan adanya qadha dan qadar. Firman Allah SWT :
Artinya : “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin : 38)
Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman :
Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22)

C. Contoh dan Macam-macam Takdir.

Meskipun segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq :

1. Takdir Mubram

Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa dari manusia.
Contoh takdir mubram antara lain :
Waktu ajal seseorang tiba
Usia seseorang
Jenis kelamin seseorang
Warna darah yang merah
Bumi mengelilingi matahari
Bulan mengelilingi bumi

Jika Allah sudah menetapkan bahwa seseorang akan mati pada suatu hari, di suatu tempat, pada jam sekian, maka orang tersebut pasti akan mati pada saat dan tempat yang sudah ditentukan itu. Ia tidak akan bisa lari atau bersembunyi dari malaikat Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah tembok benteng yang sangat kokoh. Allah SWT. berfirman :
Artinya : “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. an-Nisa : 78)

2. Takdir Mu’allaq

Dalam Bahasa Arab, mu’allaq artinya sesuatu yang digantungkan. Jadi, takdir mu’allaq berarti ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Dan hasilnya aakhirnya tentu saja menurut kehendak dan ijin dari Allah SWT. Allah SWT. berfirman :
Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)

Beberapa contoh takdir mu’allaq antara lain adalah kekayaan, kepandaian, dan kesehatan. Untuk menjadi pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh hanya duduk berpangku tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus mengambil peran dan berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk menjadi sehat kita harus menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita malas belajar atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya, tetapi malas bekerja dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi kita tidak menjaga kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan itu tak mungkin terwujud.

Sebagaimana ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar di atas, orang yang meyakini takdir Allah SWT, tidak boleh pasrah begitu saja kepada nasib karena Allah SWT memberikan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT juga memberikan tubuh dalam bentuk sebaik-baiknya untuk digunakan sarana berusaha.
Dengan demikian, jelaslah bahwa beriman kepada qadha dan qadar Allah bukan berarti kita hanya pasrah dan duduk berpangku tangan menunggu takdir dari Allah; melainkan juga berusaha yang giat sepenuh hati mengubah nasib sendiri, berupaya bekerja dengan keras mencapai apa yang kita citacitakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar