Iman Ada 6 Adalah sebagai berikut :
1.Iman kepada Allah swt.
Iman Berasal Dari Bahasa Arab Yang
Artinya Percaya. Sedangkan Menurut Istilah Iman Artinya mempercayai dan
meyakini dengan sepenuh hari, Mengucapkanya dengan lisan serta mmengamalkannya
dalam bentuk tingkah laku Dan tindakan terhadap segala apa yang diyakininya.
Seseorang yang beriman hendaknya memiliki pengetahuan dan keyakinan yang
mantab. Tujuan Iman menurut agama islam ialah taat dan patuh kepada Allah,
melaksanakan perintah-perintahNya Serta Menjauhi segala apa yang dilarangNya.
Seseorang Yang Mengaku Dirinya Beriman
Kepada Allah, Harus Taat Dan Patuh swrta melaksanakan perintahNya Dan Menjahui
larangaNya, orang yang Demikian Disebut mukmin. Islam Dan Iman tidak bisa di
pisahkan. Seseorang yang mengaku Islam hendaknya mempunyai iman di dalam
hatinya dan diwujudkan dalam amal perbuatannya sehari-hari.
Rukun
Iman adalah perkara-perkara wajib yang harus diyakini oleh setiap mukmin. Rukun
iman ada 6 (eman) macam, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Iman
Kepada Allah swt.
2. Iman
Kepada Malaikat-malaikat Allah
3. Iman
Kepada Kitac-kitab Allah
4. Iman
Kepada Nabi dan Rasul Allah
5. Iman
Kepada Hari Kiamat
6. Iman
Kepada Qadla dan Qadar Allah
Islam
Telah mengajarkan dua kalimat syahadat yang derbunyi laa ilaaha illallaah muhammadan rasulullah, Artinya Tidak Ada Tuha Selain Allah Dan Nadi
Muhammad Itu Utusan Allah. Oleh Sebab Itu Kita Harus Yakin Dengan keyakinan
yang mantap bahwasannya Allah itu adalah sutu-satunya Tuhan yang patut di
sembah Dan ditaati dengan sepenuh hati.
Sedangkan
ciri-ciri orang yang beriman adalah sebagai berikut:
a.
Bersikap rendah hati
b.
Berpandangan luas
c.
Tidak mudah putus asa
d.
Taat, patuh dan berwaspada
e.
Bersih jiwanya dan
f.
Tentram dan damai semata-mata yang
berorientasikan keslamatan dunia dan akhirat.
1. Iman Kepada Allah swt.
Iman
Kepada Allah adalah percaya dan meyakini bahwasannya Allah itu ada. Allah
adalah tuhan yang maha tunggal dan tiada sekutu bagiNya. Alla hh adalah Dzat
Yang Maha Sempurna. Allah mempunyai sifat-sifat baik yang harus ada pada Dzat
Allah dan mustahil jika Allah tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Sifat Wajib
adalah lawan dari sifat mustahil. Bagi orang mukmin, ada 20 sifat wajib bagi
Allah dan 20 sifat mustahil bagi Allah yang harus diketahui, antara adalah
sebagai berikut:
1. Wujud-ada, mustahil jika Allah bersifat Adam-Tidak ada.
Alam semesta beserta isinya pasti ada yang menciptakan adalah
Allah swt. Sebagaimana firmaNya di dalam kitab suci Alquran yang di Artikan, Dan Tuhan mu Adalah Tuhan yang Maha Esa.
Tidak ada tuhan melankan Dia (QS.Al
Baqarah 163 ).
2. Qidam –Terdahulu, Mustahil
Jika Allah bersifat Hudus-baru.
Allah maha Dahulu dan tiada permulaan Apabila aadanya Allah
ada permulaan, berarti Dia itu baru,
jika Dia baru pasti ada yang menciptakaNya. Oleh karena itu mustahil jika Allah
itu bersifat Hudus. Sebagaimana firman Allah swt, yang di artikan, Dialah Yang Maha Awal dan yang Maha
Akhir.(QS.Al Hadid3).
3. Baqa’-Kekal, Mustahil jika Allah Bersifat Fana’-rusak.
Allah telah menciptakan alam semesta beserta isinya, maka alam
semesta itu mempunyai permulaan dan kelak pasti akan berakhir yaitu ketika hari
kiamat datang. Alam semesta beserta isinya akan mengalami kehancuran, tetapi
Dzat Allah tetap kekal dan tidak akan mengalami kehancuran atau kerusakan.
Sebagaimana firman Allah swt. Yang diartikan, Semua yang ada di bumi akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu
yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan. (QS. Ar rahman 26-27 ).
4. Mukhalafatu lil hawaditsi-tidak semua dengan
yang baru, mustahil jika Allah bersifat Mumatsalatu
lil hawaditsi-serrupa dengan yang baru.
Allah adalah Dzat yang maha pencipta, tidak mungkin sama dengan
apa yang diciptakaNya dan tidak ada satu pun yang dapat menyamaiNya. Sebagai
firman Allah swt, yang di artikan, Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi
Maha Meilhat. (QS. Asy Syura 11).
5. Qiyaamuuhu binafsihi-berdiri sendiri, Mustahil
jika Allah Bersifat Ihtiyajuhu ila
ghairihi-bergantung kepada orang lain.
Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bantuan dari siapa pun dan
tanpa dipengaruhi oleh siapa pun. Sebagaimana FimaNya, yang di artikan, Dialah Allah Tidak ada tuhan melainkan
Dia yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri . (QS.Ali Imran2).
6. Wahdaniyah-Maha Esa, Musatahil jika Allah Bersifat Ta’addud-berbilang(lebih dari satu).
Allah adalah Tuhan yangMaha Esa, tiada sesuatu pun yang dapat
menyamaiNya, baik DzatNya, sifatNya
maupun perbuatanNya. Mustahil Tuhan lebih dari satu. Jika Tuhan itu lebih dari
satu , maka akan terjadi kerusakan dialam semesta ini, Karena masing-masing
mempunyai kehendak yang berlainan antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang
lain. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Katakanla:” Dialah Allah yang Maha Esa. (QS.Al Ikhlas 1).
7. Qudrat-Maha Kuasa, Mustahil
jika Allah bersifat Ajzuu-lemah.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam kekuasaan Allah.
KekuasaaNya tiada batas dan tidak adasesuatu pun yang menyamai kekuasaaNya.
Jadi mustahil jika Allah itu bersifat lemah atau tidak berkuasa. Sebagaimana
firmaNya, yang di artikan, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. Al Baqarah 20).
8. Iradah-Maha Berkehendak, mustahil
jika Allah bersifat Karadah-terpaksa.
Allah swt. Menciptakan alam beserta isinya ini atas kehendak dan
kemauan Allah sendiri, oleh sebab itu
mustahil jika Allah itu bersifat terpaksa atau dipaksa orang lain.
Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, PerintahNya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanya( dengan) berkata kepadanya:”Jadilah!”
maka jadilah ia. (QS. Yasin 82).
9. Ilmu-Maha Mengetahui Mustahil
jika Allah bersifat Jahlu-bodo.
Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang telah terjadi di
masa lampauu dan segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Sebagai firmaNya, yang di artikan, Allah Maha Mengetahui yang ada di langit dan
apa yang ada di bum dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.
(QS. Al Hujurat 16).
10. Hayat-Maha Hidup, Mustahil
jika Allah bersifat Maut-mati.
Allah adalah Dzat Pencipta yang mengatur, pemilihan serta penentu
atas jalannya kehidupan dialam semesta. Allah tidak pernah tidur, tidak punya
rasa kantuk tidak memiliki sifat lupa serta kekal adanya dan tidak akan pernah
binasa. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dialah Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup, kekal
lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur,
kepunyaaNya apa yang ada di langit dan di bumi. (Qs. Al Baqarah 255).
11. Sama’-Maha mendengar, mustahil jika
Alah bersifat shamamun –tuli.
Allah Maha Mendengar terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam
semesta. Pendengaran Allah tidak terbatasi oleh wakta dan tempat, tidak ada
sesuatu pun yang luput dari pendengaraNya. Sebagaimana firmaNya, yang di
artikan, Dan Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Megetahui. (QS.
Al Maidah).
12. Bashar-Maha Melihat, mustahil
jika Allah bersifat ‘Umyun—buta.
Allah adalah Dzat yang Maha Melihatt terhadap segala sesuatu yang
terjadi. Penglihatan Allah sangat tajam dan tak terbatas tanpa memerlukan alat,
tiada segala sesuatu yang bisa lepas dari PengelihataNya. Sebagai firmaNya,
yang di artikan, Sesungguhnya Dia(
Allah) Maha Melihat terhadap segala sesuatu. ( QS. Al Mulk 19).
13. Kalam-Maha Berfirman, mustahil
jika Allah bersifat bukmum-bisu.
Kalam Allah di berikan kepada siapa saja yang di kehendakiNya.
Allah memberikan KalmaNya kepada para Nabii dan Rasul berupa wahyu. Sebagaimana
firmaNya, yang di artikan, Dan Allah
telah berfirman kepada Musa dengan langsung. (QS. An Nisa’ 164).
14. Kaunuhu Qadiran-Allah sebagai Dzat yang Maha
Kuasa, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu
‘Ajizan-Adanya sebagai Dzat yang lemah.
Allah swt. Adalah Dzat yang Maha Pencipta dan yang mengatur
terhadap segala sesuatu yang di ciptakannya, dan Allah adalah Dzat yang Maha
Kuasa atas segala apa yang diciptakaNya, Sebagaiman firmaNya,” sesengguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala
sesuatu.”(QS. Al Baqarah 20).
15. Kaunuhu Muridan-Adanya Allah sebagai Dzat yang
Maha Berkehendak, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Mukraban-dalam keadaan dipaksa.
Sszat Allah senantiasa dalam keadaan Maha Berkehendak, tiada
sesuatu pn yang dapat menghalangi KehendakNya, tidak terpaksa dan tiada sesuatu
pun yang dapat memaksaNya. Sebagaimana firmanya,”PerintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata
kepadanya, “Jadi lah!” Maha jadila ia” (QS. Yasin 82).
16. Kaunuhu’Aaliman-adanya Allah sebagai Dzat yang
Maha Tahu, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu
Jahilan- ]dalan keadaan bodoh.
Alaah senantiasa mengetahui terhadap segala apa yang terjadi di
alam semesta ini, DzatNya Maha Tahu terhadap segala sesuatu yang diperbuat oleh makhlukNya.
Sebagaimana firmaNya, “ Allah Maha
Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dam Allah Maha
Mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. Al Hujurat 16).
17. Kaunuhu Hayyan-adanya Allah sebagai Dzat yang
Maha Hidup, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu
Mayyitan-dalam keadaan mati.
Allah adalah Dzat yang Maha Hidup, tanpa permulaan dan tiada
akhir, Allah senantiasa hidup kekal selama-lamanya. Sebagaimana firmaNya,”Dialah
Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup Kekal lagu terus menerus
mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur : KepunyaanNya segala apa
yang ada di langit dan di bumi”. (QS.
Al Baqarah 225).
18.
Kaunuhu Sami’an-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha
Mendengar, mustahil jika Allah
bersifat Kaunuhu Ashamma-dalam keadaan
tuli.
Allah adalah Dzat yang
Maha Mendengar terhadap segala apa yang terjadi dialam semesta, tiada sesuatu
pun yang bisa lepas dari pendengaraNya. Allah Maha Mendengar terhadap segala
apa yang menjadi Kehendak atau kemauan dari semua makhluk ciptaaNya.
Sebagaimana firmaNya,”Dan Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah 76).
19.
Kaunuhu Bashiran-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha
Melihat, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu A’ma-dalam keadaan tidak melihat
atau buta.
Allah adalah Dzat yang
Maha Melihat lagi Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi, tiada
sesuatu pun yang bisa lepas dari pengelihataNya. Sebagaimana firmaNya, “Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka
kerjakan”. (QS. Al Maidah 71).
20.
Kaunuhu Mutakalliman-adanya Allah sebagai Dzat yang
Maha Berfirman, mustahil jika Allah
bersifat Kaunuhu Abkama-dalam keadaan
bisu.
Allah adalah Dzat yang
Maha Berfirman kepada para rasulNya, Para Nabi Dan kepada semua makhluk Allah
yang Dia kehendaki. Sebagaimana firmaNya, “Dan
Allah telah Berfirman kepada Musa dengan langsung”. (QS. An Nisa’ 164).
2.Iman Kepada Malaikat:
Malaikat adalah makhluk ciptaan
Allah yang terbuat dari Nur (cahaya). Malaikat merupaka makhluk Allah yang
paling taat, mereka tidak pernah melanggar perintah dan larangan Allah swt. Malaikat
tidak makan, tidak minum tidak tidur serta tidak punya rasa kantuk, tidak
memiliki nafsu dan tidak dapat di lihat dengan mata. Setiap malaikat mempunyai
tugas masing-masing sesuai dengan ketetapan Allah.
Jumlah Malaikat itu banyak sekali , namun dari sekian
banyak malaikat hanya ada 10 (sepuluh) malaikat yang wajib kita ketahui.
Kesepuluh malaikat malaikat tersebut merupakan penghulu para malaikat. Ada pun
s10 (sepuluh ) Malaikat yang wajib di ketahui:
1.
Malaikat Jibril (Menyampaikan wahyu)
2.
Malaikat Mikail (Membawa rejeki, mengatur dan menjaga peredaran alam
semesta)
3.
Malaikat Izrail (Menyabut Nyawa)
4.
Malaikat Israfil (Meniup Terompet pada hari kiamat)
5.
Malaikat Raqid (Mencatat amal Baik Manusia)
6.
Malaikat Atid (Mencatat amal buruk manusia)
7.
Malaikat Munkar (Menanyai Keimanan manusia di alam kubur)
8.
Malaikat Nakir (Menanyai Keimanan manusia di alam kubur)
9.
Malaikat Ridlwan (Mejaga Surga)
10.
Malaikat Malik (menjaga neraka)
4.Iman kepada Nabi dan Rasul Rasul Allah.
6.Iman Kepada Qada dan Qadar
3.Iman Kepada Kitab-kitab Allah
Rasulullah
saw. Telah mengajarkan dan memerintahkan kepada orang mukmin untuk beriman
kepada kitab-kitab Allah yang di turunkan kepada nabi dan rosulNya. Perintah
Allah kepada para nabi dan rasul itu disebut wahyu.
Wahyu yang
di terima oleh para nabi dan rasul tersebut di kumpulka daan disebut sebagai
kitab suci. Orang mukmin harus mempercayai dan melaksanakan isi yang terkandung
dari kitab-kitab tersebut, selalu isi yang terkandung dalam kitab tersebut
tidak tercemar oleh pemikiran-pemikiran manusia. Al Qur’an telah menerangkan
bahwasanya kitab suci selain Al Qur’an sudah tidak asli lagi, Karena isi yang
terkandung dalam kitab suci selain. Al Qur’an telah banyak di salin oleh
tangan-tangan manusia. Kitab suci Al Qur’an tetap terpelihara ke asliannya kare
Allah swt. Senantiasa menjaga dan mempeliharanya .
Kitab-kitab
suci Allah yang harus kita imani itu ada 4 (empat) macam, Di antaranya adalah:
1.
Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa
as.
2.
Kita Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud
as.
3.
Kitab Injil yang di turunkan kepada Nabi Isa
as.
4.
Kitab Al Qur’an yang di turunkan kepada Nabi
Muhammad saw.
4.Iman kepada Nabi dan Rasul Rasul Allah.
Rasul
adalah manusia pilihan yang memperoleh wahyu dari Allah swt. Dan di perintah
kan untuk menyampaikan wahyu tersebut
kepada umat manusia sebagaian ajaran yang dapat membawa rahmat serta
kebahagiaan bagi kehidupan manusia di dunia adn di akhirat. Sedangkan Nabi
adalah manusia pilihan yang memperoleh wahyus dari Allah swt. Untuk dirinya
sendiri dan tidak wajib untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia.
Jumlah para Nabi dan Rasul sangat banyak namun
dari sekian banyak, para Nabi dan Rasul ada 25 (Dua Puluh Lima) Nabi dan Rasul.
Yang wajib untuk kita ketahui. Para Nabi dan Rasul mempunyai tugas yang sama,
yaitu menyampaikan ajaran Allah, membawa kabar gembira bagi orang yang beriman,
memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar. Menyempurnakan akhlak
manusia , membacakan ayat-ayat Allah kepada umatnya. Membersihkan atau membina
rohani manusia serta mengajarkan kitab suci yang dibawanya.
Nabi
dan Rasul yang wajib di ketajui adalah sebagai berikut:
1.
Nabi Adam as. 14. Nabi Musa as.
2.
Nabi Idris as. 15. Nabi Harun as.
3.
Nabi Nuh as. 16. Nabi Zulkifli as.
4.
Nabi Hud as. 17. Nabi Daus as.
5.
Nabi Shalih as. 18. Nabi
Sulaiman as.
6.
Nabi Ibrahim as. 19. Nabi
Iyas as.
7.
Nabi Luth as. 20. Nabi Ilyasa as.
8.
Nabi Ismail as. 21. Nabi
Yunus as.
9.
Nabi Islhak as. 22. Nabi
Zakaria as.
10.
Nabi yakub as. 23. Nabi Yahya as.
11.
Nabi Yusuf as. 24. Nabi Isa as.
12.
Nabi Ayyub as. 25. Nabi Muhammad saw.
13.
Nabi Suaib as.
Di antara 25 para Nabi dan Rasul
tersebut, terdapat 5 orang yang memperoleh gelar Ulul Azmi yaitu Nabi dan Rasul
yyang paling tabah dan sabar, mereka itu adalah :
1.
Nabi Nuh as.
2.
Nabi Ibrahim as.
3.
Nabi Musa as.
4.
Nabi Isa as.
5.
Nabi Muhammad saw.
Rapa Nabi
dan Rasul itu
5.Iman Kepada Hari Akhir
Iman
kepada hari akhir adalah mempercayai dan meyakini akan adanya kehidupan
yang kekal dan abadi setelah kehidupan dunia ini. Bagi orang islam
wajib mengimani dan meyakini bahwa suatu ketika nanti dunia yang kita
huni beserta isinya ini akan hancur lebur, yang dikenal dengan hari
kiamat. Setelah itu manusia akan di bangkitkan lagi dari alam kuburnya
untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya, yakni manusia akan
mempertanggungjawabkan semua yangf diperbuat selama hidup dunia. Bukti
seseorang beriman kepada hari akhir adalah ia mau mempersiapkan diri
untuk menyambut hari itu, yakni dengan banyak beramal saleh, contohnya
salat lima waktu, infaq, belajar dengan giat, dan lain-lain.
Datangnya
hari kiamat tidak ada orang yang tahukapan waktunya, datangnya hari
kiamat merupakan rahasia Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.
Thaha ayat 15 yang artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan
datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu
dibalas dengan apa yang diusahakan”.(QS. Thaha : 15)
Firman yang lainnya : “Dan
sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan
padanya, dan bahwasannya Allah membangkitkan semua yang ada dalam
kubur”.(QS. Al-Hajj : 7)
Kejadian tersebut secara jelas digambarkan dalam Al-Qur’an Surah Az Zalzalah ayat 1-5, yang artinya: “Apabila
bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah
mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia
bertanya:”Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan
beritnya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang
sedemikian itu) kepadanya.”
Hari akhir menurut kalimatnya dipahami menjadi dua, yaitu:
1. Hari akhir berarti hari yang paling akhir dalam hidup dan kehidupan makhluk di dunia ini, yang dikenal dengan hari kiamat.
2. Hari
akhir berarti hari kebangkitan atau hari akhirat, yaitu terjadinya
kehidupan alam akhirat dengan rangkaian peristiwa di dalamnya.
Hari kiamat juga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Kiamat Sughra (kiamat kecil), yaitu kerusakan atau kematian yang dialami oleh sebagian kecil umat manusia yang ada di dunia. Misalnya
kematian yang dialami seseorang karena kecelakaan, sakit, bencana
alam. Banjir, tsunami, gunung meletus, dan lain-lain.
2. Kiamat
kubro (kiamat besar), yaitu kematian dan kehancuran seluruh alam
semesta ini tanpa kecuali. Setelah kejadian ini maka kehidupan di dunia
akan berganti dengan kehidupan di akhirat.
Bukti bahwa hari kiamat itu akan datang
1. Bukti secara dalil aqli (dengan akal)
Semua yang diciptakan Allah SWT itu pasti ada batas akhir, yaitu mengalami kehancuran/kerusakan.
2. Bukti secara dalil naqli (dari Al-Qur’an dan Al Hadits)
A. Surat Al Haqqah ayat 14 yang artinya: “dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
B. Surat Muhammad ayat 18 yang artinya: “Maka
tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu)
kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah
datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadataran
mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?”
C. Surat Al Zalzalah ayat 1-5 yang artinya: “Apabila
bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah
mngeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia
bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan
beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang
sedemikian itu) kepadanya.”
Masih
banyak lagi ayat-ayat yang menggambarkan kejadian hari kiamat. Hal ini
merupakan peringatan dari Allah SWT kepada kita agar semakin mendekatkan
diri kepada Allah SWT.
6.Iman Kepada Qada dan Qadar
Bila kamu mengamati orang-orang
dan teman-teman di sekelilingmu, maka akan terlihat bahwa Allah SWT
telah menciptakan setiap manusia dalam keadaan yang tidak sama antara
yang satu dengan yang lain. Ada yang laki-laki dan ada pula yang
perempuan, ada yang tampan dan ada yang kurang tampan, ada yang cantik
dan ada pula yang kurang cantik. Ada yang berambut pirang, berambut
hitam, ada yang berambut lurus, dan ada pula yang keriting. Ada yang
berkulit putih, sawo matang, dan ada yang berkulit hitam. Ada sangat
cerdas dan ada pula orang yang idiot. Seseorang tidak pernah meminta
dilahirkan untuk menjadi bangsa Indonesia, bangsa Malaysia, Cina, Arab,
Amerika, atau bangsa manapun. Semua itu merupakan ketetapan penciptaan
Allah SWT yang sering kita sebut dengan takdir.
Bagaimana manusia menyikapi
takdir Allah SWT tersebut ? Untuk lebih memahaminya simaklah pembahasan
mengenai iman kepada Qadha dan Qadar berikut ini !
A. Ciri Beriman Kepada Qadha dan Qadar.
Dalam kehidupan sehari-hari,
setiap orang dihadapkan kepada kenyataan hidup yang dialaminya.
Kenyataan itu kadang ada yang berbentuk positif dan terkadang negatif,
seperti :
• ada yang memuaskan ada yang tidak,
• ada yang menyenangkan ada yang menyusahkan,
• ada yang menurut kita baik ada yang buruk, dan sebagainya.
Bagi orang yang beriman kepada
qadha dan qadar, apapun kenyataan dan peristiwa yang dialaminya, akan
ditanggapi dan diterima secara positif. Sebaliknya, bagi orang yang
tidak beriman kepada qadha dan qadar, kenyataan apapun yang diterima
ditanggapi dan diterima secara negatif.
Contoh :
• Orang beriman yang tertimpa
musibah menanggapi kenyataan ini dengan kesabaran dan ketabahan.
Kesabaran dan ketabahan merupakan sika positif yang dinilai Allah SWt
dengan pahala. Jadi, selama dia sabar dan tabah, selama itu pula
pahalanya terus mengalir.
• Orang beriman ketika
mendapatkan keberuntungan besar bersyukur dan merasa bahwa semua itu
karunia dari Allah SWT. Untuk itu ia ingin berbagi kepada orang lain
dengan menafkahkan sebagian keuntungannya tersebut.
• Orang yang tidak beriman ketika
mendapat musibah merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi. Dia merasa
putus asa dan akhirnya melampiaskannya dengan berbagai macam perbuatan
yang merusak, seperti melamun, merokok, mengkonsumsi narkoba, bahkan ada
yang bunuh diri.
• Orang yang tidak beriman ketika
mendapat keuntungan bisnis yang berlimpah malah menggunakannya untuk
berfoya-foya. Dia merasa bahwa yang didapatnya itu semata-mata merupakan
prestasi yang harus diraakan dan dia berhak dan bebas menggunakan
sesuka hatinya.
Dengan memahami contoh-contoh
tersebut, yakinkah kamu bahwa beriman kepada qadha dan qadar mempunyai
peranan penting dalam kehidupan? Kalau yakin, tentu kamu ingin
meningkatkan keimananmu kepada qadha dan qadar. Bagaimana ciri-ciri
orang yang beriman kepada qadha dan qadar? Berikut ini merupakan ciri
orang yang beriman kepada qadha dan qadar.
1. Selalu menyadari dan menerima kenyataan.
Iman kepada qadha dan qadar dapat
menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup.
Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada
hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT. Firman
Allah SWT :
Artinya : “Katakanlah:
“Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah
menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan
orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan
penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17)
2. Senantiasa bersikap sabar.
Orang yang beriman kepada qadha
dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh
kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar
dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman
kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2)
Wujud ujian dan cobaan bisa
berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua
meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya. Perhatikan firman Allah
berikut :
Artinya : “Dan sungguh akan
kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah : 155)
Renungkan ayat 155 surat
al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita gembira kepada orangorang yang
sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa
sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses.
3. Rajin dalam berusaha dan tidak mudah menyerah.
Agar seseorang terus giat
berusaha ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu
diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan. Firman Allah :
Artinya : “Dan bahwasannya
seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.
Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya).
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling
sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42)
4. Selalu bersikap optimis, tidak pesimis.
Keyakinan terhadap Qadha dan
Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena
ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga
tidak akan berputus asa. Firman Allah SWT :
Artinya : “…dan jangan kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari
rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)
5. Senantiasa menerapkan sikap tawakal.
Tawakal (berserah diri0 kepada
Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala
sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut
keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber
kebaikan sehingga tidak mungkin Allah menghendaki hamba-Nya kepada
keburukan. Firman Allah SWT :
Artinya : “Sesungguhnya aku
bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang
melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya
Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56).
B. Hubungan Qadha dan Qadar
Beriman kepada qadha dan qadar
merupakan rukun iman yang keenam. Qadha adalah ketentuan akan kepastian
yang datangnya dari Allah SWT terhadap segala sesuatu sejak zaman azali,
yaitu sejak zaman sebelum sesuatu itu terjadi. Segala sesuatu yang
terjadi telah diketahui Allah SWT terlebih dahulu karena Dialah yang
merencanakan serta yang menentukannya. Seluruh makhluk, baik malaikat,
syetan, jin, maupun manusia tidak akan mengetahui rencana-rencana Allah
SWT tersebut.
Manusia punya rencana, tetapi
Allah SWT yang menentukan. Ungkapan ini merupakan salah satu bentuk cara
memahami qadha dan qadar Allah SWT. Manusia memang diberi kemampuan
untuk berbuat dan berpikir, namun kedudukan Allah SWT dan kekuasaan-Nya
adalah di atas segala-galanya.
Ketentuan Allah SWT ini merupakan
hak mutlak (absolut), tanpa campur tangan siapapun dan dari manapun.
Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan manusia
terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah
SWT semata. Rasulullah saw bersabda :
Artinya : “Diriwayatkan dari
Anas bin Malik r.a katanya: baginda s.a.w bersabda: Allah SWT mengutus
Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa
air mani. Setelah beberapa waktu Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia
sudah berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh
hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal
daging. Apabila Allah SwT membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi
manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan
lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Serta
bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatat ketika masih di dalam
kandungan ibunya”.(HR Bukhari dan Muslim)
Qadar adalah ketentuan-ketentuan
Allah SWT yang telah berlaku bagi setiap makhluk sesuai dengan ukuran
dan ketentuan yang telah dipastikan oleh Allah SWT sejak zaman azali.
Oleh karena itulah, baik buruknya telah direncanakan terlebih dahulu
oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : “Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS Ar Ro’du: 8)
Dari pengertian hadis dan ayat di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri manusia
telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke
dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qadha dan qadar biasa
disebut juga dengan takdir. Jadi, beriman kepada qadha dan qadar dapat
dikatakan pula dengan beriman kepada takdir.
Takdir baru dapat diketahui oleh manusia dengan kenyataan atau peristiwa yang yang telah terjadi, contoh :
1. Terjadinya musibah bencana
tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004 yang merenggut
ratusan ribu korban meninggal dunia. Sebelum kejadian tersebut tak ada
seorangpun yang mengetahuinya.
2. Dalam suatu kejadian
kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada seorang bayi
yang selamat. Menurut ukuran akal, si bayi adalah makhluk yang sangat
lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi malah dia yang
selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha
menyelamatkan diri malah meninggal dunia.
3. Ada seorang yang dilahirkan
dari keluarga yang sangat miskin. Orang sekampung memperkirakan anak
tersebut kelak juga akan menjadi miskin seperti orang tuanya. Namun,
setelah anak tersebut dewasa ternyata menjadi orang yang pandai
berdagang, sehingga dia menjadi orang yang kaya.
Contoh-contoh di atas hanyalah
merupakan bagian kecil ari peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan
takdir Allah SWT. Masih banyak sekali peristiwa yang bisa kita pahami
sebagai perwujudan dari qadha dan qadar dari Allah SWT. Namun dari
berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan
tetap berlaku kepada setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman
harus meyakini dengan sepenuh hati akan adanya qadha dan qadar. Firman
Allah SWT :
Artinya : “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin : 38)
Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman :
Artinya : “Tiada suatu bencana
pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri,
melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.” (QS. al-Hadid : 22)
C. Contoh dan Macam-macam Takdir.
Meskipun segala sesuatu yang
terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali,
tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang
mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi menjadi
dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq :
1. Takdir Mubram
Dalam bahasa Arab, mubram artinya
sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram
merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap
diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa
ada campur tangan atau rekayasa dari manusia.
Contoh takdir mubram antara lain :
Waktu ajal seseorang tiba
Usia seseorang
Jenis kelamin seseorang
Warna darah yang merah
Bumi mengelilingi matahari
Bulan mengelilingi bumi
Jika Allah sudah menetapkan bahwa
seseorang akan mati pada suatu hari, di suatu tempat, pada jam sekian,
maka orang tersebut pasti akan mati pada saat dan tempat yang sudah
ditentukan itu. Ia tidak akan bisa lari atau bersembunyi dari malaikat
Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah tembok benteng yang sangat
kokoh. Allah SWT. berfirman :
Artinya : “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. an-Nisa : 78)
2. Takdir Mu’allaq
Dalam Bahasa Arab, mu’allaq
artinya sesuatu yang digantungkan. Jadi, takdir mu’allaq berarti
ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha
atau ikhtiarnya. Dan hasilnya aakhirnya tentu saja menurut kehendak dan
ijin dari Allah SWT. Allah SWT. berfirman :
Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)
Beberapa contoh takdir mu’allaq
antara lain adalah kekayaan, kepandaian, dan kesehatan. Untuk menjadi
pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh hanya duduk berpangku
tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus mengambil peran dan
berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya
kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk menjadi sehat kita
harus menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita
malas belajar atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya,
tetapi malas bekerja dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi
kita tidak menjaga kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan
itu tak mungkin terwujud.
Sebagaimana ciri orang yang
beriman kepada qadha dan qadar di atas, orang yang meyakini takdir Allah
SWT, tidak boleh pasrah begitu saja kepada nasib karena Allah SWT
memberikan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Allah SWT juga memberikan tubuh dalam bentuk sebaik-baiknya untuk
digunakan sarana berusaha.
Dengan demikian, jelaslah bahwa
beriman kepada qadha dan qadar Allah bukan berarti kita hanya pasrah dan
duduk berpangku tangan menunggu takdir dari Allah; melainkan juga
berusaha yang giat sepenuh hati mengubah nasib sendiri, berupaya bekerja
dengan keras mencapai apa yang kita citacitakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar