Sabtu, 01 Agustus 2015

BELAJAR TENTANG IMAN KEPADA ALLAH SWT



Iman:
Iman Berasal Dari Bahasa Arab Yang Artinya Percaya. Sedangkan Menurut Istilah Iman Artinya mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hari, Mengucapkanya dengan lisan serta mmengamalkannya dalam bentuk tingkah laku Dan tindakan terhadap segala apa yang diyakininya. Seseorang yang beriman hendaknya memiliki pengetahuan dan keyakinan yang mantab. Tujuan Iman menurut agama islam ialah taat dan patuh kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahNya Serta Menjauhi segala apa yang dilarangNya.
Seseorang Yang Mengaku Dirinya Beriman Kepada Allah, Harus Taat Dan Patuh swrta melaksanakan perintahNya Dan Menjahui larangaNya, orang yang Demikian Disebut mukmin. Islam Dan Iman tidak bisa di pisahkan. Seseorang yang mengaku Islam hendaknya mempunyai iman di dalam hatinya dan diwujudkan dalam amal perbuatannya sehari-hari.
                Rukun Iman adalah perkara-perkara wajib yang harus diyakini oleh setiap mukmin. Rukun iman ada 6 (eman) macam, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.       Iman Kepada Allah swt.
2.       Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
3.       Iman Kepada Kitac-kitab Allah
4.       Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah
5.       Iman Kepada Hari Kiamat
6.       Iman Kepada Qadla dan Qadar Allah
Islam Telah mengajarkan dua kalimat syahadat yang derbunyi laa ilaaha illallaah muhammadan rasulullah, Artinya Tidak Ada Tuha Selain Allah Dan Nadi Muhammad Itu Utusan Allah. Oleh Sebab Itu Kita Harus Yakin Dengan keyakinan yang mantap bahwasannya Allah itu adalah sutu-satunya Tuhan yang patut di sembah Dan ditaati dengan sepenuh hati.
Sedangkan ciri-ciri orang yang beriman adalah sebagai berikut:
a.       Bersikap rendah hati
b.      Berpandangan luas
c.       Tidak mudah putus asa
d.      Taat, patuh dan berwaspada
e.      Bersih jiwanya dan
f.        Tentram dan damai semata-mata yang berorientasikan keslamatan dunia dan akhirat.
1.       Iman Kepada Allah swt.
Iman Kepada Allah adalah percaya dan meyakini bahwasannya Allah itu ada. Allah adalah tuhan yang maha tunggal dan tiada sekutu bagiNya. Alla hh adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Allah mempunyai sifat-sifat baik yang harus ada pada Dzat Allah dan mustahil jika Allah tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Sifat Wajib adalah lawan dari sifat mustahil. Bagi orang mukmin, ada 20 sifat wajib bagi Allah dan 20 sifat mustahil bagi Allah yang harus diketahui, antara adalah sebagai berikut:
1.       Wujud-ada, mustahil jika Allah bersifat Adam-Tidak ada.
Alam semesta beserta isinya pasti ada yang menciptakan adalah Allah swt. Sebagaimana firmaNya di dalam kitab suci Alquran yang di Artikan, Dan Tuhan mu Adalah Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada tuhan melankan Dia (QS.Al Baqarah 163 ).

2.       Qidam –Terdahulu, Mustahil Jika Allah bersifat Hudus-baru.
Allah maha Dahulu dan tiada permulaan Apabila aadanya Allah ada  permulaan, berarti Dia itu baru, jika Dia baru pasti ada yang menciptakaNya. Oleh karena itu mustahil jika Allah itu bersifat Hudus. Sebagaimana firman Allah swt, yang di artikan, Dialah Yang Maha Awal dan yang Maha Akhir.(QS.Al Hadid3).

3.       Baqa’-Kekal, Mustahil jika Allah Bersifat Fana’-rusak.
Allah telah menciptakan alam semesta beserta isinya, maka alam semesta itu mempunyai permulaan dan kelak pasti akan berakhir yaitu ketika hari kiamat datang. Alam semesta beserta isinya akan mengalami kehancuran, tetapi Dzat Allah tetap kekal dan tidak akan mengalami kehancuran atau kerusakan. Sebagaimana firman Allah swt. Yang diartikan, Semua yang ada di bumi akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan. (QS. Ar rahman 26-27 ).

4.       Mukhalafatu lil hawaditsi-tidak semua dengan yang baru, mustahil jika Allah bersifat Mumatsalatu lil hawaditsi-serrupa dengan yang baru.
Allah adalah Dzat yang maha pencipta, tidak mungkin sama dengan apa yang diciptakaNya dan tidak ada satu pun yang dapat menyamaiNya. Sebagai firman Allah swt, yang di artikan, Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Meilhat. (QS. Asy Syura 11).

5.       Qiyaamuuhu binafsihi-berdiri sendiri, Mustahil jika Allah Bersifat Ihtiyajuhu ila ghairihi-bergantung kepada orang lain.
Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bantuan dari siapa pun dan tanpa dipengaruhi oleh siapa pun. Sebagaimana FimaNya, yang di artikan, Dialah Allah Tidak ada tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri . (QS.Ali Imran2).

6.       Wahdaniyah-Maha Esa,  Musatahil jika Allah Bersifat Ta’addud-berbilang(lebih dari satu).
Allah adalah Tuhan yangMaha Esa, tiada sesuatu pun yang dapat menyamaiNya,  baik DzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya. Mustahil Tuhan lebih dari satu. Jika Tuhan itu lebih dari satu , maka akan terjadi kerusakan dialam semesta ini, Karena masing-masing mempunyai kehendak yang berlainan antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lain. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Katakanla:” Dialah Allah yang Maha Esa. (QS.Al Ikhlas 1).

7.       Qudrat-Maha Kuasa, Mustahil jika Allah bersifat Ajzuu-lemah.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam kekuasaan Allah. KekuasaaNya tiada batas dan tidak adasesuatu pun yang menyamai kekuasaaNya. Jadi mustahil jika Allah itu bersifat lemah atau tidak berkuasa. Sebagaimana firmaNya, yang  di artikan, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah 20).

8.       Iradah-Maha Berkehendak, mustahil jika Allah bersifat Karadah-terpaksa.
Allah swt. Menciptakan alam beserta isinya ini atas kehendak dan kemauan Allah sendiri, oleh sebab itu  mustahil jika Allah itu bersifat terpaksa atau dipaksa orang lain. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, PerintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya( dengan) berkata kepadanya:”Jadilah!” maka jadilah ia. (QS. Yasin 82).

9.       Ilmu-Maha Mengetahui Mustahil jika Allah bersifat Jahlu-bodo.
Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang telah terjadi di masa lampauu dan segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagai firmaNya, yang di artikan,  Allah Maha Mengetahui yang ada di langit dan apa yang ada di bum dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. Al Hujurat 16).

10.   Hayat-Maha Hidup, Mustahil jika Allah bersifat Maut-mati.
Allah adalah Dzat Pencipta yang mengatur, pemilihan serta penentu atas jalannya kehidupan dialam semesta. Allah tidak pernah tidur, tidak punya rasa kantuk tidak memiliki sifat lupa serta kekal adanya dan tidak akan pernah binasa. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dialah Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup, kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur, kepunyaaNya apa yang ada di langit dan di bumi. (Qs. Al Baqarah 255).

11.   Sama’-Maha mendengar, mustahil jika Alah bersifat shamamun –tuli.
Allah Maha Mendengar terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Pendengaran Allah tidak terbatasi oleh wakta dan tempat, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pendengaraNya. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Megetahui. (QS. Al Maidah).

12.   Bashar-Maha Melihat, mustahil jika Allah bersifat ‘Umyun—buta.
Allah adalah Dzat yang Maha Melihatt terhadap segala sesuatu yang terjadi. Penglihatan Allah sangat tajam dan tak terbatas tanpa memerlukan alat, tiada segala sesuatu yang bisa lepas dari PengelihataNya. Sebagai firmaNya, yang di artikan, Sesungguhnya Dia( Allah) Maha Melihat terhadap segala sesuatu. ( QS. Al Mulk 19).

13.   Kalam-Maha Berfirman, mustahil jika Allah bersifat bukmum-bisu.
Kalam Allah di berikan kepada siapa saja yang di kehendakiNya. Allah memberikan KalmaNya kepada para Nabii dan Rasul berupa wahyu. Sebagaimana firmaNya, yang di artikan, Dan Allah telah berfirman kepada Musa dengan langsung. (QS. An Nisa 164).

14.   Kaunuhu Qadiran-Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu ‘Ajizan-Adanya sebagai Dzat yang lemah.
Allah swt. Adalah Dzat yang Maha Pencipta dan yang mengatur terhadap segala sesuatu yang di ciptakannya, dan Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala apa yang diciptakaNya, Sebagaiman firmaNya,” sesengguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al Baqarah 20).

15.   Kaunuhu Muridan-Adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Berkehendak, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Mukraban-dalam keadaan dipaksa.
Sszat Allah senantiasa dalam keadaan Maha Berkehendak, tiada sesuatu pn yang dapat menghalangi KehendakNya, tidak terpaksa dan tiada sesuatu pun yang dapat memaksaNya. Sebagaimana firmanya,”PerintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata kepadanya, “Jadi lah!” Maha jadila ia” (QS. Yasin 82).

16.   Kaunuhu’Aaliman-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Tahu, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Jahilan- ]dalan keadaan bodoh.
Alaah senantiasa mengetahui terhadap segala apa yang terjadi di alam semesta ini, DzatNya Maha Tahu terhadap segala  sesuatu yang diperbuat oleh makhlukNya. Sebagaimana firmaNya, “ Allah Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dam Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. (QS. Al Hujurat 16).


17.   Kaunuhu Hayyan-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Hidup, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Mayyitan-dalam keadaan mati.
Allah adalah Dzat yang Maha Hidup, tanpa permulaan dan tiada akhir, Allah senantiasa hidup kekal selama-lamanya. Sebagaimana firmaNya,”Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Maha Hidup Kekal lagu terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur : KepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan di bumi”. (QS. Al Baqarah 225).

18.   Kaunuhu Sami’an-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Mendengar, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Ashamma-dalam keadaan tuli.
Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar terhadap segala apa yang terjadi dialam semesta, tiada sesuatu pun yang bisa lepas dari pendengaraNya. Allah Maha Mendengar terhadap segala apa yang menjadi Kehendak atau kemauan dari semua makhluk ciptaaNya. Sebagaimana firmaNya,”Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah 76).

19.   Kaunuhu Bashiran-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Melihat,  mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu A’ma-dalam keadaan tidak melihat atau buta.
Allah adalah Dzat yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi, tiada sesuatu pun yang bisa lepas dari pengelihataNya. Sebagaimana firmaNya, “Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Maidah 71).

20.   Kaunuhu Mutakalliman-adanya Allah sebagai Dzat yang Maha Berfirman, mustahil jika Allah bersifat Kaunuhu Abkama-dalam keadaan bisu.
Allah adalah Dzat yang Maha Berfirman kepada para rasulNya, Para Nabi Dan kepada semua makhluk Allah yang Dia kehendaki. Sebagaimana firmaNya, “Dan Allah telah Berfirman kepada Musa dengan langsung”. (QS. An Nisa’ 164).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar